Rabu, 8 April 2026 / 19 Syawal 1447 ||
Sudahkah Anda Membaca Al-Qur'an Hari Ini

Imsak Subuh Syuruq Duha Zuhur Ashar Magrib Isya
04:28 04:38 05:50 06:17 11:58 15:13 17:59 19:07
Imsak 04:28
Subuh 04:38
Syuruq 05:50
Duha 06:17
Zuhur 11:58
Ashar 15:13
Magrib 17:59
Isya 19:07
Sumber Jadwal : BHR Kabupaten Mimika

Dalam Islam, Menimbun Barang (Ihtikar)

Oleh: KH. Muh Amin AR, S.S.Ag., S.Pd., M.M., M.Pd.
(Ketua Umum MUI Mimika)

Dalam Islam, menimbun barang (ihtikar) dengan tujuan menaikkan harga saat masyarakat membutuhkan hukumnya haram dan berdosa. Tindakan ini melanggar prinsip keadilan ekonomi, menyengsarakan umat, serta diancam dengan azab yang pedih, termasuk penyakit kusta dan kebangkrutan. Larangan ini berlaku terutama pada bahan pokok pangan.

Poin Penting Larangan Menimbun dalam Islam:

  1. Definisi Ihtikar:
    Membeli barang saat langka atau membeli barang kebutuhan pokok, lalu menyimpannya agar harganya naik, yang menyebabkan mudarat (kesulitan) bagi masyarakat umum.
  2. Ancaman Hadis:
    Rasulullah SAW bersabda:
    “Tidak akan menimbun kecuali orang yang berbuat dosa.” (HR. Muslim)
  3. Syarat Terlarang (Haram):
    Penimbunan dianggap haram jika:
    (1) Menyengsarakan masyarakat,
    (2) Dilakukan pada komoditas pokok,
    (3) Sengaja ditahan untuk menunggu harga melonjak,
    (4) Dilakukan di masa sulit.

Kondisi yang Dibolehkan (Bukan Ihtikar):

A. Menyimpan stok untuk kebutuhan pribadi/keluarga, atau menyimpan hasil panen/barang saat harganya murah untuk dijual kembali dengan harga normal (bukan menimbun saat barang langka).

B. Tindakan Pemerintah:
Dalam fikih, jika penimbunan menyebabkan kemudaratan, pemerintah berhak memaksa penimbun menjual barangnya dengan harga wajar atau menyita barang tersebut.

Praktik menimbun bertentangan dengan prinsip keadilan ekonomi yang menekankan kemaslahatan bersama di atas keuntungan pribadi.