Oleh:
KH. Muh. Amin AR, S.Ag., S.Pd., M.M., M.Pd.
(Ketua Umum
MUI Mimika)
Istilah khusus "Idul
Yatama" atau Lebaran Anak Yatim pada tanggal 10
Muharram (Hari Asyura) tidak bersumber dari hadis shahih, melainkan merupakan
tradisi atau budaya masyarakat Muslim di Indonesia.
Secara fikih dan hadis, tidak
terdapat riwayat shahih yang secara khusus menganjurkan ibadah atau menyantuni
anak yatim hanya pada tanggal 10 Muharram. Hadis yang sering dikutip mengenai
mengusap kepala anak yatim pada Hari Asyura memiliki derajat dhaif
(lemah) bahkan ada yang dinilai matruk (ditinggalkan para
perawinya).
Meskipun demikian, anjuran
untuk menyayangi, memelihara, dan menanggung anak yatim sangat banyak
disebutkan dalam Al-Qur'an maupun hadis, serta berlaku sepanjang tahun. Selain
itu, terdapat pula anjuran memperbanyak sedekah pada Hari Asyura.
Berikut beberapa landasan umum
mengenai keutamaan menyantuni anak yatim dan bersedekah di bulan Muharram:
1. Kedudukan Bersama Nabi ﷺ di Surga
"Aku dan
orang yang menanggung anak yatim (kedudukannya) di surga seperti ini,"
kemudian beliau mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah serta
merenggangkannya sedikit.
(HR. Bukhari)
2. Anjuran Bersedekah pada Hari Asyura
"Barang
siapa berpuasa pada Hari Asyura (10 Muharram), maka seakan-akan ia berpuasa
selama setahun. Dan barang siapa bersedekah pada hari itu, maka ia seakan-akan
bersedekah selama setahun."
(Diriwayatkan dalam beberapa atsar dan riwayat
ulama, sebagaimana dijelaskan oleh Syekh Abdul Hamid bin Muhammad Ali Quds
dalam kitab Kanzun Najah Was Surur.)
3. Rumah Terbaik di Kalangan Kaum Muslimin
"Sebaik-baik
rumah di antara kaum Muslimin adalah rumah yang di dalamnya terdapat anak yatim
yang diperlakukan dengan baik. Dan seburuk-buruk rumah di antara kaum Muslimin
adalah rumah yang di dalamnya terdapat anak yatim yang diperlakukan dengan
buruk."
(HR. Ibnu Majah dan Tirmidzi)










