Oleh: KH. Muh. Amin AR, S.Ag.,
S.Pd., M.M., M.Pd.
(Ketua Umum
MUI Mimika)
Menjelang waktu sahur di bulan
Ramadhan, umat Islam sering mendengar istilah bahwa jarak antara sahur dan
Subuh pada masa Nabi Muhammad SAW adalah “seukuran membaca 50 ayat”. Ungkapan
ini kerap dipahami secara tekstual, padahal memiliki makna yang lebih dalam
dalam konteks fiqih dan sunnah Nabi.
Makna “50 ayat” yang
dibaca Nabi Muhammad SAW di akhir waktu sahur adalah sebuah metafora durasi waktu
atau jarak antara selesainya makan sahur dengan dimulainya shalat Subuh. Hal
ini menunjukkan adanya anjuran untuk mengakhirkan sahur, mendekati waktu
fajar.
Hadits yang diriwayatkan oleh
Zaid bin Tsabit menyebutkan:
تَسَحَّرْنَا مَعَ النَّبِيِّ
صلى الله عليه وسلم ثُمَّ قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ قُلْتُ: كَمْ كَانَ بَيْنَ الأَذَانِ
وَالسُّحُورِ؟ قَالَ: قَدْرُ خَمْسِينَ آيَةً
Artinya: “Kami makan sahur bersama Rasulullah SAW,
kemudian kami berdiri untuk melaksanakan shalat. Saya bertanya: ‘Berapa
perkiraan waktu antara adzan (masuk waktu Subuh) dengan makan sahur?’ Ia
menjawab: ‘Sekiranya dapat dipakai membaca 50 ayat.’” (HR. Al-Bukhari)
Makna dan Penjelasan Hadis
A. Jarak Waktu Terakhir
Rasulullah SAW
dan Zaid bin Tsabit melakukan sahur, dan jarak antara selesainya sahur dengan
shalat Subuh adalah seukuran bacaan 50 ayat. Ini menunjukkan bahwa sahur
dilakukan di waktu yang sangat dekat dengan terbitnya fajar.
B. Perkiraan Durasi Waktu
Para ulama
memperkirakan durasi bacaan 50 ayat (tidak terlalu panjang dan tidak terlalu
pendek) setara dengan sekitar 10–15 menit.
C. Waktu Utama Sahur
Hadis ini menunjukkan
bahwa waktu sahur yang paling utama adalah di akhir waktu (mendekati fajar
shadiq), bukan di tengah malam.
Bukan Imsak, Tetapi Adzan Subuh
Dalam hadis tersebut, jarak “50
ayat” dihitung dari selesainya makan sahur hingga azan Subuh, bukan waktu imsak
sebagaimana yang umum diterapkan di Indonesia. Meski demikian, waktu imsak
tetap dapat dijadikan sebagai bentuk kehati-hatian.
Inti Maknanya
Membaca “50 ayat” bukan berarti
seseorang harus benar-benar membaca 50 ayat saat sahur. Ungkapan tersebut
memberikan gambaran bahwa Nabi Muhammad SAW makan sahur sesaat sebelum fajar,
dengan jeda waktu yang cukup untuk bersiap melaksanakan shalat, membaca
Al-Qur’an, atau beristighfar sebelum masuk waktu Subuh.
Dengan memahami makna ini
secara utuh, umat Islam diharapkan dapat mengamalkan sunnah sahur dengan lebih
tepat, bijak, dan penuh keberkahan di bulan suci Ramadhan.











