Senin, 23 Februari 2026 / 5 Ramadan 1447 ||
Sudahkah Anda Membaca Al-Qur'an Hari Ini

Imsak Subuh Syuruq Duha Zuhur Ashar Magrib Isya
04:33 04:43 05:56 06:23 12:09 15:19 18:15 19:25
Imsak 04:33
Subuh 04:43
Syuruq 05:56
Duha 06:23
Zuhur 12:09
Ashar 15:19
Magrib 18:15
Isya 19:25
Sumber Jadwal : BHR Kabupaten Mimika

Praktik 36 Rakaat dalam Shalat Tarawih

Oleh: KH. Muh. Amin AR, S.Ag., S.Pd., M.M., M.Pd.
(Ketua Umum MUI Mimika)

Perbedaan jumlah rakaat dalam shalat Tarawih merupakan bagian dari khazanah fiqih Islam yang kaya dan dinamis. Salah satu praktik yang tercatat dalam sejarah adalah pelaksanaan 36 rakaat Tarawih di Madinah, yang lahir dari ijtihad para ulama dan masyarakat setempat pada masa itu.

Praktik ini merupakan ijtihad sejarah yang unik, yang muncul sebagai bentuk “persaingan dalam ibadah” yang positif dengan penduduk Makkah.

Berikut ringkasan sejarahnya:


1. Latar Belakang: Keistimewaan Makkah

Pada masa awal, penduduk Makkah melaksanakan Tarawih sebanyak 20 rakaat. Di sela-sela setiap 4 rakaat (setelah satu salam atau masa istirahat/tarwihat), mereka melakukan thawaf sebanyak 7 kali putaran di Ka’bah.

Keistimewaan lokasi Masjidil Haram memungkinkan mereka menambah nilai ibadah melalui thawaf di antara rakaat-rakaat Tarawih.


2. Ijtihad Penduduk Madinah

Penduduk Madinah, yang tidak memiliki Ka’bah untuk melakukan thawaf, merasa ingin mengejar keutamaan pahala yang diperoleh penduduk Makkah. Sebagai gantinya, mereka menambah jumlah rakaat shalat di setiap jeda istirahat tersebut.

Perbandingannya sebagai berikut:

  • Makkah: 20 rakaat + 4 kali thawaf
  • Madinah: 20 rakaat + 16 rakaat tambahan (4 rakaat tambahan di setiap jeda istirahat) = 36 rakaat

Tambahan 16 rakaat ini menjadi ciri khas praktik Tarawih di Madinah pada masa itu.


3. Penetapan Resmi

Praktik 36 rakaat menjadi populer dan kemudian ditetapkan secara resmi pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz (sekitar tahun 99–101 H), sebagai bentuk penyamaan keutamaan ibadah dengan penduduk Makkah.


4. Pengakuan Mazhab Maliki

Imam Malik bin Anas, pendiri Mazhab Maliki yang menetap di Madinah, memilih pendapat 36 rakaat sebagai praktik yang paling beliau sukai. Hal ini karena praktik tersebut merupakan tradisi penduduk Madinah (‘amal ahli al-Madinah) yang telah berlangsung lama.


Catatan Saat Ini

Meskipun sejarah mencatat angka 36 rakaat, untuk Ramadhan 1447 H (2026 M), Pemerintah Arab Saudi menetapkan pelaksanaan Tarawih di Masjid Nabawi dan Masjidil Haram sebanyak 10 rakaat (ditambah 3 witir) demi kenyamanan arus jamaah.


Sebagai penutup, praktik 36 rakaat menunjukkan bahwa perbedaan jumlah rakaat Tarawih merupakan bagian dari ijtihad ulama dan tradisi yang memiliki dasar sejarah yang kuat. Perbedaan tersebut hendaknya dipahami sebagai keluasan rahmat syariat Islam, bukan sebagai sumber perpecahan.

Semoga Ramadhan 1447 H menjadi momentum meningkatkan kualitas ibadah dengan penuh kekhusyukan dan toleransi dalam menyikapi perbedaan.