Oleh: KH. Muh. Amin AR, S.Ag., S.Pd., M.M., M.Pd.
(Ketua Umum MUI Mimika)
Perbedaan jumlah rakaat dalam shalat
Tarawih merupakan bagian dari khazanah fiqih Islam yang kaya dan dinamis. Salah
satu praktik yang tercatat dalam sejarah adalah pelaksanaan 36 rakaat
Tarawih di Madinah, yang lahir dari ijtihad para ulama dan masyarakat
setempat pada masa itu.
Praktik ini merupakan ijtihad sejarah
yang unik, yang muncul sebagai bentuk “persaingan dalam ibadah” yang
positif dengan penduduk Makkah.
Berikut ringkasan sejarahnya:
1. Latar Belakang:
Keistimewaan Makkah
Pada masa awal, penduduk Makkah
melaksanakan Tarawih sebanyak 20 rakaat. Di sela-sela setiap 4 rakaat
(setelah satu salam atau masa istirahat/tarwihat), mereka melakukan
thawaf sebanyak 7 kali putaran di Ka’bah.
Keistimewaan lokasi Masjidil Haram
memungkinkan mereka menambah nilai ibadah melalui thawaf di antara
rakaat-rakaat Tarawih.
2. Ijtihad Penduduk
Madinah
Penduduk Madinah, yang tidak memiliki
Ka’bah untuk melakukan thawaf, merasa ingin mengejar keutamaan pahala yang
diperoleh penduduk Makkah. Sebagai gantinya, mereka menambah jumlah rakaat
shalat di setiap jeda istirahat tersebut.
Perbandingannya sebagai berikut:
- Makkah: 20 rakaat + 4 kali thawaf
- Madinah: 20 rakaat + 16 rakaat tambahan
(4 rakaat tambahan di setiap jeda istirahat) = 36 rakaat
Tambahan 16 rakaat ini menjadi ciri
khas praktik Tarawih di Madinah pada masa itu.
3. Penetapan Resmi
Praktik 36 rakaat menjadi populer dan
kemudian ditetapkan secara resmi pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz
(sekitar tahun 99–101 H), sebagai bentuk penyamaan keutamaan ibadah dengan
penduduk Makkah.
4. Pengakuan Mazhab
Maliki
Imam Malik bin Anas, pendiri Mazhab Maliki yang menetap
di Madinah, memilih pendapat 36 rakaat sebagai praktik yang paling beliau
sukai. Hal ini karena praktik tersebut merupakan tradisi penduduk Madinah (‘amal
ahli al-Madinah) yang telah berlangsung lama.
Catatan Saat Ini
Meskipun sejarah mencatat angka 36
rakaat, untuk Ramadhan 1447 H (2026 M), Pemerintah Arab Saudi menetapkan
pelaksanaan Tarawih di Masjid Nabawi dan Masjidil Haram sebanyak 10
rakaat (ditambah 3 witir) demi kenyamanan arus jamaah.
Sebagai penutup, praktik 36 rakaat
menunjukkan bahwa perbedaan jumlah rakaat Tarawih merupakan bagian dari ijtihad
ulama dan tradisi yang memiliki dasar sejarah yang kuat. Perbedaan tersebut
hendaknya dipahami sebagai keluasan rahmat syariat Islam, bukan sebagai sumber
perpecahan.
Semoga Ramadhan 1447 H menjadi
momentum meningkatkan kualitas ibadah dengan penuh kekhusyukan dan toleransi
dalam menyikapi perbedaan.













