Oleh: KH. Muh.
Amin AR, S.Ag., S.Pd., M.M., M.Pd.
(Ketua Umum MUI Mimika)
Dalam Surah Al-Kahfi, Zulkarnain (atau Dzulqarnain)
adalah sosok raja yang saleh, adil, dan sangat berkuasa. Namanya secara harfiah
berarti "pemilik dua tanduk".
Meskipun Al-Qur'an tidak menyebutkan identitas aslinya secara spesifik, beliau
ditafsirkan sebagai seorang pemimpin yang diberi kemampuan oleh Allah SWT untuk
menjelajahi berbagai penjuru bumi guna menegakkan keadilan dan menyebarkan
ajaran tauhid.
Ulama dan para sejarawan memiliki beberapa
pandangan populer mengenai siapa sebenarnya tokoh Zulkarnain, di antaranya:
- Koresy Agung (Cyrus the Great)
Banyak mufasir modern dan sejarawan, seperti Abul
Kalam Azad, mengidentifikasikan Zulkarnain sebagai Koresy Agung, Raja
Kekaisaran Persia. Ia dikenal sebagai pemimpin yang adil, toleran, serta pernah
membantu bangsa Yahudi kembali ke Palestina.
- Alexander Agung (Iskandar Zulkarnain)
Sebagian ulama klasik mengaitkan Zulkarnain dengan
Alexander Agung dari Makedonia, seorang penakluk besar yang wilayah
kekuasaannya membentang dari Yunani hingga Asia.
- Raja dari Yaman
Pendapat lain menyebutkan
bahwa Zulkarnain adalah salah satu raja Himyar dari Yaman kuno, seperti
Ash-Shab bin Dzi Maratsid.
Kisah Utama dalam Al-Qur'an
(Surah
Al-Kahfi ayat 83–98)
Atas
karunia Allah SWT, Zulkarnain melakukan tiga perjalanan besar, yaitu:
1.
Ke Arah Barat
Beliau mencapai tempat di
mana matahari tampak terbenam pada sebuah perairan yang berlumpur hitam,
kemudian bertemu dengan suatu kaum.
2. Ke Arah Timur
Beliau melanjutkan
perjalanan menuju wilayah tempat matahari terbit dan mendapati suatu kaum yang
tidak memiliki pelindung maupun bangunan untuk berlindung dari panas matahari.
3. Ke Arah Utara
(Pembangunan Benteng)
Beliau tiba di antara dua
pegunungan dan bertemu dengan suatu kaum yang mengeluhkan gangguan Ya'juj dan
Ma'juj. Atas izin Allah SWT, Zulkarnain membangun sebuah dinding penghalang
yang sangat kokoh dari besi dan tembaga yang dilelehkan untuk menghalangi
mereka.
Kisah Zulkarnain diabadikan dalam Al-Qur'an sebagai
teladan bahwa seorang pemimpin yang memiliki kekuasaan besar tidak menjadi
sombong atas kekuatannya. Sebaliknya, ia senantiasa bersyukur kepada Allah SWT,
taat kepada-Nya, menegakkan keadilan, serta selalu menolong kaum yang lemah.










