Rabu, 28 Oktober 2026 / 17 Jumadilawal 1448 ||
Sudahkah Anda Membaca Al-Qur'an Hari Ini

Imsak Subuh Syuruq Duha Zuhur Ashar Magrib Isya
04:02 04:12 05:25 05:53 11:40 14:54 17:47 18:58
Imsak 04:02
Subuh 04:12
Syuruq 05:25
Duha 05:53
Zuhur 11:40
Ashar 14:54
Magrib 17:47
Isya 18:58
Sumber Jadwal : BHR Kabupaten Mimika

Memahami Asap Ad-Dukhan dalam Al-Qur’an dan Hadis, Ini Dua Pandangan Ulama

MIMIKA MUSLIM — Istilah ad-dukhan (الدخان), yang berarti asap atau kabut, disebut dalam Al-Qur’an dan hadis sebagai bagian dari pembahasan tentang peringatan Allah SWT dan tanda-tanda akhir zaman. Namun, para ulama memiliki penafsiran yang berbeda mengenai peristiwa yang dimaksud dan waktu terjadinya. Karena itu, pembahasan Ad-Dukhan perlu dipahami dengan merujuk pada dalil dan penjelasan para ahli tafsir, bukan melalui dugaan atas fenomena asap yang muncul di suatu wilayah.

Landasan Al-Qur’an dan Hadis

Dalam Surah Ad-Dukhan, surah ke-44 dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman pada ayat 10–11:

فَارْتَقِبْ يَوْمَ تَأْتِي السَّمَاءُ بِدُخَانٍ مُبِينٍ ۝ يَغْشَى النَّاسَ ۖ هَٰذَا عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Maka tunggulah pada hari ketika langit membawa kabut yang tampak jelas, yang meliputi manusia. Inilah azab yang pedih.” (QS. Ad-Dukhan: 10–11)

Dalam Shahih Muslim hadis nomor 2901a, dari Hudzaifah bin Usaid al-Ghifari, Rasulullah SAW menyebut ad-dukhan sebagai salah satu dari sepuluh tanda yang akan tampak sebelum hari kiamat, bersama sejumlah tanda besar lainnya. Riwayat ini menjadi salah satu dasar pembahasan dukhan dalam kajian akhir zaman.

Dua Pandangan dalam Penafsiran Ulama

Pertama, penafsiran bahwa dukhan telah terjadi. Abdullah bin Mas’ud RA memahami ayat tersebut sebagai gambaran kondisi kaum Quraisy pada masa Nabi Muhammad SAW. Mereka mengalami kelaparan berat, sehingga saat memandang ke langit terlihat seolah-olah ada asap yang menutupi pandangan. Penjelasan ini antara lain dicatat dalam Tafsir Ibnu Katsir.

Kedua, penafsiran bahwa dukhan merupakan peristiwa yang masih akan terjadi. Sebagian ulama memahami asap yang disebut dalam hadis tentang tanda-tanda besar kiamat sebagai peristiwa akhir zaman yang belum berlangsung. Dalam riwayat-riwayat tafsir yang dinukil para ulama, Ibnu Abbas RA juga dikaitkan dengan pandangan tentang dukhan yang akan datang. Terdapat pula penjelasan yang membedakan antara peristiwa pada masa Quraisy dan dukhan sebagai tanda akhir zaman.

Dengan demikian, perbedaan pendapat ini tidak tepat disederhanakan seolah setiap ulama hanya menganut satu penafsiran tanpa nuansa. Adapun uraian terperinci mengenai dampak asap terhadap kelompok manusia berasal dari sejumlah riwayat dan penjelasan ulama yang perlu ditelaah sesuai derajat serta konteks masing-masing.

Tidak Menyamakan Kabut Asap dengan Tanda Kiamat

Kemunculan kabut, polusi udara, kebakaran hutan, atau asap dari peristiwa tertentu tidak dapat begitu saja dinyatakan sebagai dukhan yang disebut dalam dalil. Demikian pula, klaim tentang tanggal atau tahun pasti munculnya tanda tersebut tidak dapat dibenarkan tanpa landasan yang sahih. Umat Islam dianjurkan bersikap bijak, tidak menyebarkan kepanikan, dan tetap memperhatikan penjelasan ilmiah ketika menghadapi kejadian lingkungan.

Pembahasan tentang akhir zaman pada akhirnya menjadi pengingat untuk memperkuat tauhid, memperbanyak amal saleh, menjaga akhlak, dan senantiasa bertobat kepada Allah SWT. Perbedaan tafsir hendaknya dihadapi dengan adab keilmuan dan kesadaran bahwa pengetahuan manusia memiliki batas. Wallahu a’lam bish-shawab.

Rujukan: QS. Ad-Dukhan: 10–11; Shahih Muslim no. 2901a; Tafsir Ibnu Katsir; ulasan NU Online mengenai dukhan. (Sumber: quran.com, sunnah.com, islam.nu.or.id)