Sudahkah Anda Membaca Al-Qur'an Hari Ini

Penjelasan Ketua MUI Mimika Tentang Ulama Besar yang Menjomblo

KH. Muh. Amin AR, S.Ag, MM

Apakah jomblo? Belum punya pasangan? Anda sering diledek karena belum punya pasangan? Tenang, jomblo ada sebuah pilihan hidup. Dalam sejarah ada beberapa ulama besar yang jomblo  seumur hidup. Ia memilih menjadi jomblo sebagai jalan ninja. Siapa saja mereka? berikut rilisnya.

Dalam kitab Al-Ulama’ al-‘Uzzab Alladzina Atsarul ‘ilma ‘Ala az-Zawaj, karya Syekh Abdul Fattah Abu Ghuddah, mendokumentasikan beberapa ulama  yang memilih menjomblo seumur hidup. Pilihan itu diambil dikarena sibuk mencari ilmu

1. Ulama Jomblo dari ahli Tafsir

Pertama, Abdullah Bin Abi Najjih al-Makky.

Sepak terjangnya dalam ilmu tasir tak diragukan lagi. Beliau dari  hidup dari kalangan tabi, tabiin. Bagi yang mendalami tafsir pasti tak asing dengan mufassir Thawus bin Kaysan al Yamani dan Mujahid  bin Jabbar al Maky, kedua orang ini adalah guru langsung dari Abu Yasar Abdullah bin Abi Najih— nama asli dari Abdulla al Makky.


Kedua, Abu al-Qasim Mahmud ibn Umar al-Zamakhshari.

Abu al-Qasim Mahmud ibn Umar al-Zamakhshari yang lebih populer dengan nama Zamakhshari, pengarang kitab Tafsir Al-Kasysyaf. Seorang ulama yang ahli dalam kaidah bahasa Arab. Kono beliau juga disebut sebagai peletak dasar ilmu Balaghoh. Dalam gramatika bahasa Arab, Imam Zamakhsari adalah spesialisnya. Hingga akhir hayatnya, ulama besar ini memilih jomblo. Demi menghabiskan usia dalam menekuni ilmu pengetahuan.

Mufassirnya selanjutnya yang menghabiskan usia dengan tidak menikah adalah Ibnu Jarir at-Thabari.  Beliau berkelana mengelilingi belahan dunia untuk menimba ilmu mulai dari Baqdad hingga ke Mesir. Seorang ulama besar yang pakar dalam pelbagai ilmu kajian Islam, seperti ; sejarah, ilmu hadist, dan fiqih. Karya monumental Thabari adalah tafsir “Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an”, yang lebih populer dengan nama tafisr ath-Thabary.

Ketiga, Abu Ishaq Ibrahim bin Ali asy-Syirazi.

Ia adalah ahli fiqih terkemuka dalam mazhab Syafi’i. Ia pernah mengajar dalam sekolah yang terkenal di Bagdad, Nizamiyah.  Asy-Syirazi lahir di Persia (Iran). Ulama ini memilih untuk tak menikah. Ia seumur hidupnya mendedikasikan dirinya untuk memperdalam yurisprudensi Islam. Jomblo adalah jalan ninjanya.

Keempat, Ibnu an-Nafis.

Ia memiliki nama asli Ala-al-Din abu al-Hasan Ali ibn Abi-Hazm al-Qarshi al-Dimashqi. Ibnu Nafis adalah pakar pelbagai disiplin ilmu pengetahuan. Ia ahli fiqih, sekaligus ushul fiqih. Selain itu, ia juga seorang dokter. Pakar dalam ilmu kedokteran. Ialah rang pertama  yang mampu mendeskripsikan peredaran darah dalam tubuh manusia secara tepat. Ibnu Nafis juga orang pertama yang telah mendokumentasikan sirkuit paru-paru. Meski unggul dalam ilmu pengetahuan, Ibn Nafis pun tak menikah. Jomblo hingga akhir hayat.


2. Ulama Ahli Fiqh yang Jomblo

Pertama, Imam Nawawi

Orang yang mendalami kajian yurisprudensi Islam pasti tak asing dengan nama Muhyuddin Yahya an-Nawawi ad-Dimasyqi. Kepakarannya di bidang fikih masyhur ke seluruh negeri.  Ulama yang hidup abad 6 Hijriyah  merupakan pengarang pelbagai kitab fiqih antara lain; Minhaj ath-Thalibin, al-Majmu` Syarhul al-Muhadzab, Raudlatul Thalibin wa Umdatul Muftin.

Kedua, Ibn Taimiyah.

Ia dijeluki dengan syaikhul Islam, pakar dalam lintas ilmu pengetahuan. Seorang Teolog unggul, seorang pakar hadis, dan juga seorang mufti, lihat saja kitab beliau, Majmu’ Fatawa. Sejarah hidupnya memang penuh dengan lika-liku. Berkali-kali masuk poenjara. Pun hidupnya berakhir di balik jeruji besi tahanan di Qal`ah Dimasyq. Satu yang pasti, Ibn Taimiyah tak menikah seumur hidupnya. Jomblo adalah pilihannya.

Ketiga, Imam Al-Anbari Ibn

al-Anbari lahir pada bulan Rabi’ul Akhir tahun 513 H. Seorang yang telah mendedikasinya hidupnya untuk pengetahuan. Ia memilih menjomblo seumur hidupnya.

Ia awalnya Fiqih di Madrasah Nizhamiyyah (Baghdad). Di antara karya Al-Anbari adalah Kitab al-Intishar fa Masa ‘il al-Khilaf dan  Kitab Akhbar an-Nuhah. Wallahu A'lam