mimikamuslim.com - Ramadan bukan sekadar bulan puasa. Ia adalah arena kompetisi ruhiyah, tempat kita berlomba meraih rida Allah, ampunan, dan pahala yang tak terhingga. Tapi pertanyaannya… siapa yang bakal jadi finalis sejati di bulan penuh berkah ini? Apakah Antum siap turun gelanggang? Atau cuma jadi penonton yang lewat tanpa jejak? 🏁
🌀 1. Ramadan Adalah Ajang Kompetisi Iman
Ketahuilah wahai saudaraku, Ramadan itu ibarat turnamen akbar, bukan hanya menahan lapar dan haus, tapi juga melatih kesabaran, memperbanyak ibadah, dan meningkatkan empati terhadap sesama. Allah telah membuka gerbang surga, menutup pintu neraka, dan membelenggu syaitan – maka inilah saat yang paling strategis untuk naik level keimanan.
"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa."
(وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا ٱلسَّمَـٰوَاتُ وَٱلْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ)
Wa sâri‘û ilâ maghfiratim mir rabbikum wa jannatin ‘arduhas-samâwâti wal-ard, u‘iddat lil-muttaqîn.
Artinya: “Bersegeralah kalian kepada ampunan dari Tuhan kalian dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang bertakwa.” (QS Ali Imran: 133)
Jangan antum anggap enteng. Ini bukan sekadar ibadah rutin, tapi momen transformasi jiwa.
📚 2. Siapkan Dirimu Seperti Seorang Finalis
Antum tahu nggak, kalau atlet yang mau masuk final itu latihan keras, jaga disiplin, dan punya fokus penuh? Maka Ramadan pun demikian. Antum harus masuk dengan:
-
Niat yang ikhlas: Semua dimulai dari niat, broh. (Antum Gen Z? Harus relate dong~)
-
Ibadah yang berkualitas: Shalat tahajjud, tadarus, sedekah, dan dzikir jadi bahan bakar antum.
-
Kesehatan fisik dan mental: Jangan begadang nggak jelas, apalagi main game sampai sahur lupa ngaji.
Persiapkan diri antum layaknya pemain utama dalam pertandingan spiritual. Jangan cuma jadi penonton pasif yang nonton live tarawih di TikTok.
🧠 3. Kisah Abu Thalhah: Finalis Sejati Sejak Zaman Nabi
Mari kita ambil ibrah dari sahabat mulia, Abu Thalhah radhiyallahu 'anhu. Beliau adalah sosok yang istiqamah puasa selama 40 tahun setelah Rasul wafat, gak pernah bolong kecuali karena udzur syar'i. Di usianya yang lanjut, ia tetap ikut jihad, dan wafat dalam keadaan berpuasa di atas kapal saat menuju medan perang. MasyaAllah, jenazahnya tetap utuh selama 7 hari, seolah hanya tertidur.
Inilah yang dimaksud sebagai juara akhirat – bukan karena banyak followers, tapi karena kuatnya istiqamah dan cinta pada Allah.
🌍 4. Finalis Ramadan Itu Bukan yang Viral, Tapi yang Tertulis di Lauhul Mahfuz
Kita hidup di zaman digital, di mana "eksis" itu sering disalahartikan sebagai tanda sukses. Tapi ingat, yang Allah nilai bukan seberapa banyak likes dan views, tapi seberapa tulus antum beribadah di balik layar.
-
Kalau antum bantu fakir miskin tanpa konten: itu finalis.
-
Kalau antum tahajjud diam-diam di malam hari: itu finalis.
-
Kalau antum minta ampun dengan air mata saat sujud: itu finalis.
Ramadan bukan soal siapa yang paling ramai, tapi siapa yang paling taat tanpa pamrih.
🕊️ Kesimpulan: Jadilah Finalis Ramadan yang Allah Banggakan
Wahai antum yang dirahmati Allah, jangan sia-siakan bulan mulia ini. Jadikan dirimu seperti Abu Thalhah, yang sampai akhir hayatnya tetap menjadi pejuang Ramadan sejati. Tinggalkan kemalasan, lupakan drama, dan fokuslah menjadi finalis Ramadan yang Allah catat di antara hamba-Nya yang bertakwa.
Antum siap? Maka sekaranglah waktunya. Jadilah juara sebelum Ramadan ini usai. ✊🌙