Oleh: KH. Muh. Amin AR, S.Ag.,
S.Pd., M.M., M.Pd.
(Ketua Umum
MUI Mimika)
Dalam pelaksanaan shalat
Tarawih, tidak jarang makmum merasa tertinggal bacaan Al-Fatihah karena imam
membaca dengan tempo yang cepat. Kondisi ini sering menimbulkan pertanyaan,
apakah shalat makmum tetap sah jika belum selesai membaca Al-Fatihah ketika imam
sudah rukuk?
Secara umum, pendapat para imam
mazhab membolehkan makmum langsung mengikuti gerakan imam apabila tidak sempat
menyelesaikan Al-Fatihah, dan shalatnya tetap dianggap sah, terutama jika
tertinggal karena uzur. Makmum tetap wajib berusaha menyempurnakan bacaan
Al-Fatihah selama masih memungkinkan, namun apabila imam sudah rukuk, maka
makmum wajib segera mengikuti rukuk.
Berikut rincian pendapat
berdasarkan mazhab:
A. Mazhab Syafi’i
Dalam mazhab Syafi’i, membaca Al-Fatihah
adalah rukun bagi makmum. Jika imam bergerak terlalu cepat, makmum
diperbolehkan tertinggal hingga tiga rukun panjang (seperti rukuk, sujud, dan
sujud) untuk menyelesaikan bacaan Al-Fatihah.
Namun, jika makmum telah
berusaha menyelesaikan bacaan dan imam sudah rukuk, maka makmum mengikuti rukuk
dan sisa bacaan Al-Fatihah yang belum selesai dimaafkan.
B. Mazhab Hanafi, Maliki, dan Hanbali
Dalam pandangan mazhab Hanafi,
Maliki, dan Hanbali, secara umum bacaan imam sudah mencukupi bagi makmum.
Makmum tidak diwajibkan membaca Al-Fatihah secara mandiri dan cukup
mendengarkan bacaan imam. Dengan demikian, shalat tetap sah meskipun imam rukuk
sebelum makmum selesai membaca.
C. Kondisi Masbuq (Tertinggal)
Apabila makmum mendapati imam
sudah dalam keadaan rukuk, maka makmum wajib langsung mengikuti rukuk tanpa
harus menyelesaikan bacaan Al-Fatihah, dan rakaat tersebut tetap dianggap sah.
Sebagai penutup, perbedaan
pendapat para ulama menunjukkan keluasan fiqih Islam dalam memberikan kemudahan
kepada umat. Yang terpenting dalam shalat Tarawih adalah menjaga kekhusyukan,
ketertiban mengikuti imam, serta menghindari sikap berlebihan dalam memperdebatkan
hal-hal yang telah memiliki dasar ijtihad yang sah.
Semoga Ramadhan 1447 H menjadi
momentum memperbaiki kualitas ibadah dan memperkuat ukhuwah Islamiyah di tengah
masyarakat.













