Oleh: KH. Muh. Amin AR, S.Ag.,
S.Pd., M.M., M.Pd.
(Ketua Umum
MUI Mimika)
Dalam pelaksanaan
ibadah Ramadhan, khususnya setelah shalat Tarawih, sering muncul pertanyaan
mengenai keutamaan shalat witir: apakah lebih utama dilakukan berjamaah bersama
imam atau dikerjakan sendiri di akhir malam?
Secara umum, shalat witir
berjamaah bersama imam lebih utama dan afdhal di bulan Ramadhan,
karena memiliki keutamaan pahala seperti shalat semalam penuh. Namun, bagi yang
berniat bangun untuk tahajud di akhir malam, mengakhirkan witir secara sendiri (munfarid)
juga memiliki keutamaan tersendiri.
Rincian Hukum dan Keutamaan
1. Witir Bersama Imam (Lebih
Utama)
Rasulullah SAW
bersabda:
مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ
Artinya:
“Barang siapa shalat malam bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis
untuknya (pahala) shalat satu malam penuh.”
Hadis ini
menunjukkan keutamaan menyempurnakan shalat bersama imam hingga selesai,
termasuk witir. Ini menjadi pilihan terbaik bagi yang tidak yakin dapat bangun
di akhir malam atau ingin menyempurnakan ibadah Tarawih secara langsung.
Apabila sudah
melaksanakan witir bersama imam, maka tidak perlu mengulangi witir lagi jika
bangun malam, sebagaimana sabda Nabi SAW:
لَا وِتْرَانِ
فِي لَيْلَةٍ
(Tidak ada
dua witir dalam satu malam).
2. Witir Sendiri di Akhir Malam
(Lebih Utama bagi yang Tahajud)
Jika seseorang
yakin dapat bangun untuk tahajud, maka mengakhirkan witir setelah tahajud
dan mengerjakannya secara sendiri lebih afdhal, karena menjadikan witir sebagai
penutup shalat malam.
3. Cara yang Bisa Ditempuh
Bagi yang ingin
tetap mendapatkan keutamaan berjamaah sekaligus mengakhirkan witir, dapat mengikuti
imam hingga witir. Namun, saat imam salam, ia berdiri kembali untuk menambah
satu rakaat sehingga witirnya menjadi genap, lalu melaksanakan witir kembali di
akhir malam.
Kesimpulan
Jika tidak
yakin dapat bangun malam, maka ikutilah imam sampai selesai, termasuk witir.
Jika yakin akan bangun untuk tahajud, disunnahkan mengakhirkan witir sebagai
penutup shalat malam.
Perbedaan ini
menunjukkan keluasan syariat Islam dalam memberikan kemudahan kepada umat,
selama tetap menjaga kekhusyukan dan adab dalam beribadah.
Semoga Ramadhan
1447 H menjadi momentum meningkatkan kualitas ibadah malam dengan penuh
keikhlasan dan istiqamah.













