Oleh: KH Muh Amin AR, S.Ag., S.Pd.,
M.M., M.Pd
(Ketua Umum
MUI Mimika)
Sebagian ulama berpendapat bahwa
malam
ke-27 Ramadhan merupakan waktu terkuat terjadinya Lailatul Qadar.
Pendapat ini didasarkan pada sejumlah riwayat hadis dari para sahabat, isyarat
dalam struktur bahasa Surah Al-Qadr, serta pandangan para ulama terkemuka
seperti Imam
Syafi’i dan Imam Ahmad.
Di antara sepuluh malam
terakhir Ramadhan, malam ke-27 dinilai memiliki peluang yang
paling besar sebagai waktu turunnya Lailatul Qadar, meskipun para ulama
tetap menegaskan bahwa malam tersebut bisa saja berpindah pada malam-malam
ganjil lainnya.
Berikut
beberapa alasan yang sering dikemukakan oleh para ulama:
1. Riwayat Hadis dari Para Sahabat
Salah satu dasar kuat pendapat
ini adalah riwayat dari sahabat Ubay bin Ka’ab yang pernah
bersumpah bahwa Lailatul Qadar terjadi pada malam ke-27 Ramadhan.
Pernyataan tersebut didasarkan pada petunjuk yang ia pahami dari Rasulullah SAW
mengenai malam yang dianjurkan untuk dihidupkan dengan shalat dan ibadah.
2. Isyarat dalam Surah Al-Qadr
Sebagian ulama juga menyoroti
adanya isyarat
linguistik dalam Surah Al-Qadr. Frasa “لَيْلَةُ الْقَدْرِ” (Lailatul Qadr) terdiri dari sembilan huruf dan disebutkan
sebanyak tiga kali dalam surah tersebut. Dalam beberapa analisis, pola ini
dianggap memberikan isyarat simbolik yang berkaitan dengan malam ke-27
Ramadhan.
3. Kaitan dengan Angka Tujuh
Riwayat lain yang dinukil dari Ibnu Abbas RA
mengaitkan kemungkinan malam ke-27 dengan berbagai unsur angka tujuh dalam
ajaran Islam, seperti tujuh langit, tujuh bumi, dan tujuh putaran tawaf.
Analogi ini dipahami sebagai penguat kemungkinan terjadinya Lailatul Qadar pada
malam tersebut.
4. Pandangan Para Ulama
Ulama besar
seperti Imam
Syafi’i dan Imam Ahmad juga berpendapat bahwa Lailatul Qadar
sering kali jatuh pada malam ke-27. Meski demikian, mereka
tetap menegaskan bahwa malam tersebut berada dalam lingkup malam-malam
ganjil pada sepuluh hari terakhir Ramadhan.
5. Tanda-tanda Alam
Dalam beberapa riwayat
disebutkan bahwa pagi hari setelah malam Lailatul Qadar, matahari
terbit dengan cahaya yang lembut dan tidak menyilaukan. Tanda ini
sering dikaitkan dengan malam-malam ganjil, termasuk malam ke-27.
Kesimpulan
Malam
ke-27 Ramadhan memang sering dianggap sebagai waktu yang paling kuat
kemungkinan terjadinya Lailatul Qadar. Namun demikian, para ulama menegaskan bahwa malam tersebut tidak selalu
tetap pada satu tanggal tertentu.
Karena itu, umat Islam dianjurkan untuk menghidupkan seluruh malam
ganjil pada sepuluh hari terakhir Ramadhan dengan berbagai ibadah,
seperti shalat malam, membaca Al-Qur’an, berdzikir, dan berdoa, agar tidak
terlewatkan keutamaan Lailatul Qadar yang lebih baik dari
seribu bulan.













