Oleh: KH Muh Amin AR, S.Ag., S.Pd.,
M.M., M.Pd
(Ketua Umum
MUI Mimika)
Penentuan
malam Lailatul Qadar di Indonesia
sering dianggap sulit dan kerap menimbulkan perdebatan di tengah masyarakat.
Hal ini terutama berkaitan dengan perbedaan fokus antara malam ganjil dan
malam genap, yang berakar dari perbedaan dalam penentuan awal
Ramadhan serta metode perhitungan malam dalam kalender Islam.
Berikut beberapa poin penting
yang menjelaskan mengapa penentuan malam Lailatul Qadar
terasa lebih kompleks di Indonesia:
1. Fokus Hadis pada Malam Ganjil
Rasulullah SAW menganjurkan umat
Islam untuk mencari
Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir Ramadhan, terutama
pada malam-malam
ganjil, yaitu malam ke-21, 23, 25, 27, dan 29.
2. Perbedaan Metode Perhitungan
Sebagian ulama menghitung malam
ganjil berdasarkan
tanggal sejak awal Ramadhan, seperti malam ke-21, 23, dan
seterusnya. Namun, pandangan lain yang merujuk pada hadis Abu Sa’id
Al-Khudri menyarankan untuk mencarinya pada malam-malam
yang tersisa di akhir Ramadhan (hitungan mundur). Dengan metode
ini, kemungkinan malam genap juga bisa termasuk dalam pencarian Lailatul Qadar.
3. Perbedaan Penentuan Awal Ramadhan
Di Indonesia, perbedaan metode
penentuan awal Ramadhan antara pemerintah dan sebagian ormas Islam
sering menyebabkan perbedaan tanggal. Akibatnya, malam yang dianggap ganjil oleh
satu kelompok bisa saja dianggap genap oleh kelompok lainnya
dalam kalender yang sama.
4. Hikmah Dirahasiakannya Lailatul Qadar
Para ulama menjelaskan bahwa Allah SWT
merahasiakan waktu pasti Lailatul Qadar sebagai bentuk hikmah
agar umat Islam bersungguh-sungguh beribadah sepanjang sepuluh malam terakhir Ramadhan,
tidak hanya terpaku pada satu malam tertentu saja.
5. Pendapat Ulama tentang Kemungkinan Malam Genap
Sebagian ulama berpendapat
bahwa Lailatul
Qadar tidak harus selalu jatuh pada malam ganjil. Dengan
mempertimbangkan perbedaan penampakan hilal dan metode perhitungan, malam genap pun
berpotensi menjadi waktu terjadinya Lailatul Qadar.
Saran Ibadah
Untuk menyikapi perbedaan dan
kesulitan dalam penentuan tersebut, para ulama menganjurkan agar umat Islam
memaksimalkan ibadah pada seluruh malam dalam sepuluh hari terakhir Ramadhan,
baik malam ganjil maupun genap.
Dengan cara ini, peluang untuk meraih keutamaan Lailatul Qadar yang
lebih baik dari seribu bulan akan semakin besar.













