Kamis, 25 Juni 2026 / 10 Muharam 1448 ||
Sudahkah Anda Membaca Al-Qur'an Hari Ini

Imsak Subuh Syuruq Duha Zuhur Ashar Magrib Isya
04:28 04:38 05:56 06:25 11:59 15:21 17:54 19:08
Imsak 04:28
Subuh 04:38
Syuruq 05:56
Duha 06:25
Zuhur 11:59
Ashar 15:21
Magrib 17:54
Isya 19:08
Sumber Jadwal : BHR Kabupaten Mimika

PECA’ SURA ATAU BUBUR ASYURAH: TRADISI SYUKUR DAN SILATURAHMI DALAM NUANSA ISLAM

Oleh: KH. Muh. Amin AR, S.Ag., S.Pd., M.M., M.Pd.
(Ketua Umum MUI Mimika)

Peca’ Sura (atau Bella Pitu Rupa/Bubur Tujuh Rupa) merupakan tradisi leluhur masyarakat Bugis di Sulawesi Selatan, termasuk di wilayah Maros dan Pangkep, yang dilaksanakan setiap tanggal 10 Muharram. Tradisi ini dimaknai sebagai wujud rasa syukur, sedekah, serta doa memohon keselamatan dan perlindungan kepada Allah SWT, yang selaras dengan nilai-nilai ajaran Islam.

Tinjauan Makna Menurut Syariat Islam

1. Ungkapan Rasa Syukur

Pembuatan Bubur Asyurah dimaknai sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat dan rezeki yang diberikan Allah SWT. Sikap syukur merupakan ajaran yang sangat dianjurkan dalam Islam sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Ibrahim ayat 7.

2. Bersedekah dan Mempererat Silaturahmi

Tradisi memasak bersama dan membagikan bubur kepada tetangga, kerabat, serta fakir miskin mengandung nilai ibadah sedekah yang sangat dianjurkan, terutama pada bulan Muharram. Kegiatan ini juga menjadi sarana mempererat ukhuwah dan silaturahmi antar sesama.

3. Refleksi dan Doa Bersama

Rangkaian kegiatan biasanya diisi dengan doa bersama untuk memohon keselamatan, keberkahan, dan kebaikan pada tahun yang akan datang. Berdoa bersama untuk tujuan kebaikan merupakan amalan yang dianjurkan selama tidak disertai praktik syirik maupun khurafat.

4. Tradisi yang Sesuai Syariat ('Urf)

Dalam kaidah fikih, tradisi lokal atau 'urf yang tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan Hadis dapat diterima sebagai sesuatu yang mubah (boleh). Oleh karena itu, agar tradisi Peca’ Sura tetap sesuai dengan syariat Islam, perlu diperhatikan beberapa hal berikut:

  1. Niat yang tulus untuk berbagi, bersedekah, dan beribadah kepada Allah SWT.
  2. Menjadikan kegiatan sebagai sarana memperkuat persaudaraan dan kebersamaan.
  3. Menghindari keyakinan mistis atau anggapan bahwa bubur tersebut memiliki kekuatan magis secara mandiri di luar kehendak Allah SWT.

Tradisi Peca’ Sura pada hakikatnya merupakan bagian dari kekayaan budaya yang dapat terus dilestarikan selama nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tetap berada dalam koridor ajaran Islam dan tidak bertentangan dengan akidah maupun syariat.

Semoga tradisi yang sarat dengan nilai syukur, sedekah, dan kebersamaan ini menjadi sarana mempererat ukhuwah Islamiyah serta mendatangkan keberkahan bagi masyarakat.