Oleh: KH. Muh. Amin AR, S.Ag.,
S.Pd., M.M., M.Pd.
(Ketua Umum MUI Mimika)
Bagaimana cara kita mensyukuri kemerdekaan
tersebut? Setidaknya ada tiga hal yang bisa kita lakukan sebagai generasi
penerus kemerdekaan.
Pertama, mendoakan para pahlawan
dan pejuang bangsa. Allah SWT
berfirman:
وَلَا تَقُولُوا لِمَنْ يُقْتَلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتٌ ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ
وَلَٰكِنْ لَا تَشْعُرُونَ
“Janganlah kamu mengatakan bahwa
orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati. Sebenarnya mereka hidup, tetapi
kamu tidak menyadarinya.”
(QS. Al-Baqarah: 154)
Kita tidak gegabah menetapkan seseorang secara
individual sebagai syahid karena hakikat kedudukan seseorang di sisi Allah
adalah urusan Allah SWT. Tetapi, kita diberikan tuntunan untuk mendoakan para
kiai, mujahid, dan pejuang santri yang telah gugur dalam perjuangan membela
agama, bangsa, tanah air, dan kemanusiaan, agar Allah SWT menerima amal mereka,
mengampuni dosa mereka, dan menempatkan mereka dalam kemuliaan di sisi-Nya.
Kedua, meneladani jiwa kepahlawanan. Pahlawan bukan hanya orang yang berperang di medan
tempur. Setiap zaman mempunyai medan perjuangannya sendiri. Setiap zaman
melahirkan pahlawan.
Dahulu, medan perjuangan adalah medan perang. Hari
ini, medan perjuangan kita jauh lebih kompleks. Ada medan perjuangan di bidang
pendidikan. Ada medan ekonomi. Ada medan kesehatan. Ada medan sosial. Ada medan
kebudayaan. Bahkan, ada medan digital.
Guru berjuang untuk mendidik. Ulama berjuang dengan
ilmu dan keteladanan. Orang tua berjuang membentuk akhlak anak-anaknya,
memberikan nafkah yang halal untuk menghidupi keluarga. Petani berjuang
menyediakan pangan, menjamin ketersediaan dan kedaulatan pangan. Pedagang
berjuang dengan perputaran roda ekonomi, dengan semangat kejujuran. Aparatur
negara berjuang dengan integritas dan pelayanan prima. Tenaga kesehatan
berjuang menyelamatkan kehidupan dan melakukan riset-riset di bidang kesehatan.
Anak muda berjuang dengan ilmu, kreativitas, inovasi, dan akhlak. Inilah
kepahlawanan dalam konteks zaman kita.
Karena itu, pertanyaan seorang muslim sejati
seharusnya bukan hanya: “Apa yang telah
negara berikan kepada saya?” Tetapi juga: “Apa yang telah saya berikan kepada bangsa, agama,
dan sesama?”
Rasulullah SAW bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ
لِلنَّاسِ
“Sebaik-baik manusia adalah yang
paling bermanfaat bagi manusia.”
Maka, menjadi warga negara yang baik
adalah bagian dari aktualisasi kemanfaatan itu.
Ketiga, meneruskan perjuangan. Para pahlawan telah mewariskan kemerdekaan kepada
kita. Tugas kita bukan hanya menikmati warisan tersebut. Tugas kita adalah
merawat, mengisi, dan meneruskannya.
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ
نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ
لِغَدٍ
“Wahai orang-orang yang beriman!
Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang
telah diperbuatnya untuk hari esok.”
(QS. Al-Hasyr: 18)
Ayat ini mengajarkan orientasi masa depan. Jangan sampai generasi kita hanya menikmati hasil perjuangan generasi terdahulu, tetapi tidak menanam sesuatu untuk generasi sesudah kita. Jangan sampai kita mewarisi Indonesia yang merdeka, tetapi meninggalkan Indonesia yang terpecah. Jangan sampai kita menerima persatuan sebagai warisan, tetapi justru meninggalkan permusuhan kepada anak cucu kita











