Jumat, 14 Agustus 2026 / 1 Rabiulawal 1448 ||
Sudahkah Anda Membaca Al-Qur'an Hari Ini

Imsak Subuh Syuruq Duha Zuhur Ashar Magrib Isya
04:32 04:42 05:55 06:23 12:01 15:21 17:59 19:09
Imsak 04:32
Subuh 04:42
Syuruq 05:55
Duha 06:23
Zuhur 12:01
Ashar 15:21
Magrib 17:59
Isya 19:09
Sumber Jadwal : BHR Kabupaten Mimika

Mensyukuri Kemerdekaan

Oleh: KH. Muh. Amin AR, S.Ag., S.Pd., M.M., M.Pd.
(Ketua Umum MUI Mimika)

Bagaimana cara kita mensyukuri kemerdekaan tersebut? Setidaknya ada tiga hal yang bisa kita lakukan sebagai generasi penerus kemerdekaan.

Pertama, mendoakan para pahlawan dan pejuang bangsa. Allah SWT berfirman:

وَلَا تَقُولُوا لِمَنْ يُقْتَلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتٌ ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ وَلَٰكِنْ لَا تَشْعُرُونَ

“Janganlah kamu mengatakan bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati. Sebenarnya mereka hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.”
(QS. Al-Baqarah: 154)

Kita tidak gegabah menetapkan seseorang secara individual sebagai syahid karena hakikat kedudukan seseorang di sisi Allah adalah urusan Allah SWT. Tetapi, kita diberikan tuntunan untuk mendoakan para kiai, mujahid, dan pejuang santri yang telah gugur dalam perjuangan membela agama, bangsa, tanah air, dan kemanusiaan, agar Allah SWT menerima amal mereka, mengampuni dosa mereka, dan menempatkan mereka dalam kemuliaan di sisi-Nya.

Kedua, meneladani jiwa kepahlawanan. Pahlawan bukan hanya orang yang berperang di medan tempur. Setiap zaman mempunyai medan perjuangannya sendiri. Setiap zaman melahirkan pahlawan.

Dahulu, medan perjuangan adalah medan perang. Hari ini, medan perjuangan kita jauh lebih kompleks. Ada medan perjuangan di bidang pendidikan. Ada medan ekonomi. Ada medan kesehatan. Ada medan sosial. Ada medan kebudayaan. Bahkan, ada medan digital.

Guru berjuang untuk mendidik. Ulama berjuang dengan ilmu dan keteladanan. Orang tua berjuang membentuk akhlak anak-anaknya, memberikan nafkah yang halal untuk menghidupi keluarga. Petani berjuang menyediakan pangan, menjamin ketersediaan dan kedaulatan pangan. Pedagang berjuang dengan perputaran roda ekonomi, dengan semangat kejujuran. Aparatur negara berjuang dengan integritas dan pelayanan prima. Tenaga kesehatan berjuang menyelamatkan kehidupan dan melakukan riset-riset di bidang kesehatan. Anak muda berjuang dengan ilmu, kreativitas, inovasi, dan akhlak. Inilah kepahlawanan dalam konteks zaman kita.

Karena itu, pertanyaan seorang muslim sejati seharusnya bukan hanya: “Apa yang telah negara berikan kepada saya?” Tetapi juga: “Apa yang telah saya berikan kepada bangsa, agama, dan sesama?”

Rasulullah SAW bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.”

Maka, menjadi warga negara yang baik adalah bagian dari aktualisasi kemanfaatan itu.

Ketiga, meneruskan perjuangan. Para pahlawan telah mewariskan kemerdekaan kepada kita. Tugas kita bukan hanya menikmati warisan tersebut. Tugas kita adalah merawat, mengisi, dan meneruskannya.

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.”
(QS. Al-Hasyr: 18)

Ayat ini mengajarkan orientasi masa depan. Jangan sampai generasi kita hanya menikmati hasil perjuangan generasi terdahulu, tetapi tidak menanam sesuatu untuk generasi sesudah kita. Jangan sampai kita mewarisi Indonesia yang merdeka, tetapi meninggalkan Indonesia yang terpecah. Jangan sampai kita menerima persatuan sebagai warisan, tetapi justru meninggalkan permusuhan kepada anak cucu kita