Senin, 7 September 2026 / 25 Rabiulawal 1448 ||
Sudahkah Anda Membaca Al-Qur'an Hari Ini

Imsak Subuh Syuruq Duha Zuhur Ashar Magrib Isya
04:25 04:35 05:46 06:13 11:54 15:09 17:55 19:04
Imsak 04:25
Subuh 04:35
Syuruq 05:46
Duha 06:13
Zuhur 11:54
Ashar 15:09
Magrib 17:55
Isya 19:04
Sumber Jadwal : BHR Kabupaten Mimika

KITAB AL-BARZANJI ANTARA PRO & KONTRA

Oleh: KH. Muh. Amin AR, S.Ag., S.Pd., M.M., M.Pd.
Ketua Umum MUI Mimika

Kalau kita membuka literatur, ternyata Kitab Al-Barzanji ini tidak kuno-kuno amat. Disebutkan bahwa penulisnya, yaitu Syekh Ja'far Al-Barzanji bin Husin bin Abdul Karim, hidup antara tahun 1690 hingga 1766 Masehi.

Kalau dibandingkan dengan kitab-kitab fikih mazhab turats, kitab yang judul aslinya ‘Iqdul Jawahir (عقد الجواهر), yang artinya untaian permata, ini terbilang sebagai karya ulama yang relatif lebih modern, setidaknya tidak terlalu salaf-salaf sekali.

Konon, Al-Barzanji dikenal sebagai seorang qadhi (hakim). Bahkan, mazhabnya pun bukan Mazhab As-Syafi'i sebagaimana yang sering diduga sebagian orang. Beliau disebutkan bermukim di Kota Madinah Al-Munawwarah.

Tentu jangan dibayangkan Madinah pada masa itu seperti sekarang. Pada masa beliau hidup, empat mazhab masih mendapatkan tempat, bahkan beliau sendiri disebut sebagai seorang hakim yang bermazhab Maliki.

Kalau kita bahas dari segi isinya, tema besar Kitab Al-Barzanji adalah riwayat hidup Rasulullah SAW yang ditulis dalam bentuk prosa bersajak atau natsr. Namun, terdapat pula versi puisi atau nazham, yaitu susunan syair yang memiliki irama tertentu.

Di masyarakat Betawi, umumnya Barzanji natsar dibaca oleh jamaah laki-laki, sementara Barzanji nazham dibaca oleh jamaah perempuan.

Yang Menjadi Titik Perdebatan

Biasanya, beberapa hal yang menjadi titik perdebatan atau sering dipersoalkan mengenai Kitab Al-Barzanji antara lain sebagai berikut.

1. Terlalu Mengagungkan Nabi SAW dengan Bahasa Sastra

Misalnya, terdapat lafaz dalam kitab ini yang memuji Nabi SAW dengan ungkapan sastra:

أشـرق البــدر علـينا فاخـتفت منه البدور
مثل
حسنك ما رأينا قط يا وجـه السرور

Telah terbit purnama di tengah-tengah kita, maka tertutuplah semua bulan purnama.

Kemudian:

انت شمس انت بدر انت نور فــوق نـور
انت
اكســير وغـالى انت مصباح الصدور

Engkaulah surya, engkaulah purnama. Engkaulah cahaya di atas cahaya.

Dalam tradisi masyarakat Arab, metafora dan simbol terhadap benda-benda langit dimaksudkan untuk menumbuhkan kuatnya rasa cinta dan kerinduan terhadap sosok yang dijunjung, sebagaimana manusia selalu merindukan hadirnya purnama.

Dengan penggambaran demikian, sang pengarang ingin menyampaikan betapa pribadi Rasulullah SAW begitu agung dan penting bagi umat manusia, sebagaimana benda-benda langit yang berada di atas, memancarkan keindahan, tidak terjangkau oleh tangan, namun selalu dirindukan dan memiliki peran penting dalam kehidupan alam semesta.

Namun, bagi kalangan yang menolak Barzanji, teks-teks seperti di atas dinilai terlalu berlebihan, bahkan dianggap mengarah pada sikap menuhankan Nabi SAW. Apalagi terdapat ungkapan bahwa Rasulullah SAW adalah “cahaya di atas cahaya.”

Menurut kalangan penentangnya, ungkapan tersebut hanya layak bagi Allah SWT sebagaimana firman-Nya:

اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِن شَجَرَةٍ مُّبَارَكَةٍ زَيْتُونِةٍ لَّا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ نُّورٌ عَلَى نُورٍ يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَن يَشَاء وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca, dan kaca itu seakan-akan bintang yang bercahaya seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, yaitu pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur dan tidak pula di sebelah barat, yang minyaknya hampir-hampir menerangi walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis). Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
(QS. An-Nur: 35)

Kemudian, mereka yang menerima dan mengagungkan Kitab Al-Barzanji berhujah bahwa apabila seseorang memahami ilmu bahasa Arab, termasuk ilmu syair, badi' dan bayan, maka bahasa-bahasa metafora seperti itu memang sangat melekat di dalam karya sastra.

Justru kekuatan bahasa sastra terletak pada penggunaan majas, perumpamaan, dan ungkapan hiperbolis. Kalau semuanya harus dipahami secara harfiah, maka tentu bukan karya sastra lagi, tetapi seperti membaca buku matematika, kimia, atau fisika.

Kurang lebih mirip dengan bahasa sastra dalam surat cinta. Seorang laki-laki mungkin menuliskan kepada orang yang dicintainya:

“Engkaulah bidadariku.”

Kalau dinilai secara harfiah dan ilmiah, tentu ungkapan tersebut tidak tepat karena manusia bukanlah bidadari.

Namun, surat cinta seperti itu ditulis oleh berjuta-juta laki-laki di dunia dan menyenangkan berjuta-juta perempuan. Lantas, apakah semuanya harus dianggap telah meyakini bahwa perempuan yang dipujinya benar-benar seorang bidadari?

Tentu bukan demikian maksudnya.

Ungkapan “engkau adalah bidadariku” merupakan bentuk pujian. Kalau diterjemahkan maksudnya secara lebih lengkap, kurang lebih berbunyi:

“Engkau ibarat atau seumpama bidadari di dalam hatiku.”

Orang yang menulisnya tentu tidak benar-benar meyakini bahwa pasangannya adalah bidadari dalam pengertian sebenarnya. Masa bidadari betulan, kok jerawatan?

2. Banyak Hadis Dhaif dan Palsu

Kitab Al-Barzanji selain merupakan karya sastra, isinya juga memuat sejarah atau sirah nabawiyah.

Kalangan yang menolak Barzanji menilai bahwa sebagian kisah sejarah di dalamnya tidak memiliki landasan riwayat yang kuat karena terdapat hadis atau riwayat yang dinilai lemah bahkan palsu.

a. Tanggal Kelahiran Nabi

Salah satu yang paling sering diangkat adalah persoalan tanggal kelahiran Nabi SAW.

Tahun, bulan, dan tanggal kelahirannya masih menjadi pembahasan di kalangan ahli sejarah. Namun, menurut pendapat yang dikenal kuat, Rasulullah SAW lahir menjelang Subuh pada hari Senin, tanggal 12 Rabiul Awal pada Tahun Gajah.

Kalangan yang pro terhadap Barzanji menjawab bahwa kitab ini bukanlah kitab Sirah Nabawiyah secara 100 persen.

Kitab ini berisi kisah mengenai kelahiran Nabi SAW yang banyak beredar di tengah masyarakat. Oleh karena itu, penulisnya juga menyebutkan adanya perbedaan pendapat, walaupun turut mencantumkan keterangan bahwa pendapat yang masyhur adalah tanggal 12 Rabiul Awal.

Hampir semua kitab sirah nabawiyah juga membahas adanya perbedaan tersebut.

b. Berdiri Usia 3 Bulan, Berjalan Usia 5 Bulan, dan Bicara Usia 9 Bulan

Di dalam teks Barzanji memang terdapat lafaz:

فَقَامَ عَلَى قَدَمَيْهِ فِي ثَلَاثٍ وَمَشَى فِي خَمْسٍ وَقَوِيَتْ فِي تِسْعٍ مِنَ الشُّهُورِ بِفَصِيحِ النُّطْقِ قَوَاه

Rasulullah SAW berdiri di atas kedua kakinya pada usia 3 bulan, berjalan pada usia 5 bulan, dan fasih berbicara pada usia 9 bulan.

Bagi kita, tentu hal tersebut terdengar tidak biasa. Namun, dalam pembahasan kenabian dikenal istilah irhashat, yaitu kejadian luar biasa yang diberikan kepada seseorang sebelum diangkat menjadi nabi.

Jadi, apabila ditanya apakah hal tersebut mungkin terjadi, jawabannya secara kemungkinan tentu bisa saja.

Namun, persoalannya adalah kisah tersebut memang tidak didasarkan pada hadis sahih yang dikenal luas, atau setidaknya umat Islam tidak menemukan kisah tersebut dalam hadis-hadis yang memiliki validitas kuat.

Karena itu, apabila pembahasannya dari sisi validitas riwayat, maka wajar apabila terdapat pihak yang meragukan kebenarannya.

Tidak dapat dinafikan bahwa riwayat-riwayat seperti ini cukup banyak disampaikan sehingga akhirnya terjadi perbedaan pendapat mengenai kebenarannya.

Salah satu ulama Indonesia yang disebut mendukung riwayat tersebut adalah ulama besar Nusantara yang pernah menjadi guru di Makkah, yaitu Syekh Nawawi Al-Bantani.

Kita mengetahui bahwa banyak ulama Nusantara yang berguru atau mengambil manfaat dari karya-karya beliau. Syekh Nawawi Al-Bantani juga menulis kitab yang merupakan syarah atau penjelasan terhadap Kitab Al-Barzanji.

Pada akhirnya, persoalan mengenai Kitab Al-Barzanji memang melahirkan pandangan yang berbeda di tengah umat. Ada yang menerimanya sebagai karya sastra keagamaan dan sarana mengenang perjalanan hidup Rasulullah SAW, sementara sebagian lainnya memberikan kritik terhadap sejumlah ungkapan maupun riwayat yang terkandung di dalamnya.

Perbedaan tersebut hendaknya menjadi ruang untuk menambah ilmu, memperluas wawasan, dan menjaga adab dalam menyikapi khilafiyah di tengah umat Islam.

Wallahu a'lam bish-shawab.