Oleh: KH Muh Amin AR, S.Ag., S.Pd., M.M., M.Pd.
(Ketua Umum MUI Mimika)
Fenomena lesunya semangat ibadah di
pertengahan Ramadhan (10 hari kedua) sering disebut sebagai “fase
kritis” atau futur (penurunan semangat iman). Kondisi ini
cukup umum terjadi dan biasanya dipengaruhi oleh kombinasi faktor fisik,
psikologis, serta kebiasaan sehari-hari.
Berikut beberapa penyebab utama
mengapa sebagian umat Islam mulai merasa lesu dalam beribadah saat memasuki
pertengahan bulan puasa:
1. Kelelahan Fisik dan Penyesuaian Metabolisme
Setelah 10–15 hari berpuasa, tubuh mulai merasakan kelelahan akibat
proses penyesuaian metabolisme. Rasa lapar, haus, serta kurang tidur
karena bangun sahur dan menjalankan ibadah tarawih dapat menumpuk dan
memengaruhi stamina.
2. Target Ibadah Terlalu Tinggi di Awal Ramadhan
Semangat yang sangat tinggi di awal Ramadhan terkadang tidak diiringi dengan perencanaan
yang realistis. Misalnya, menargetkan khatam Al-Qur’an terlalu cepat atau
melakukan shalat malam secara berlebihan tanpa jeda istirahat. Hal ini
berpotensi menimbulkan burnout (kelelahan fisik dan mental) di
tengah perjalanan Ramadhan.
3. Gangguan Fokus karena Urusan Duniawi
Memasuki pertengahan bulan, perhatian sebagian orang mulai terbagi dengan persiapan
Idul Fitri, seperti belanja kebutuhan, agenda buka puasa bersama, hingga
berbagai aktivitas sosial lainnya. Hal ini dapat mengurangi fokus dan waktu
untuk beribadah.
4. Pola Makan yang Kurang Sehat saat Sahur dan Berbuka
Konsumsi makanan berlebihan saat berbuka atau kurangnya asupan gizi saat sahur
dapat menyebabkan tubuh cepat lemas. Akibatnya, ibadah pada malam hari
seperti shalat tarawih atau tahajud terasa lebih berat untuk dijalankan.
5. Fenomena “Amalan Musiman”
Sebagian orang menjalankan ibadah secara maksimal hanya pada awal Ramadhan
karena euforia semata, bukan karena niat menjaga konsistensi (istiqamah).
Ketika semangat awal tersebut mulai menurun, motivasi untuk beribadah pun ikut
melemah.
6. Kurangnya Manajemen Waktu
Waktu luang seringkali dihabiskan untuk tidur berlebihan atau aktivitas yang
kurang produktif, sehingga memicu rasa malas dan menurunkan semangat dalam
menjalankan ibadah.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, umat
Islam dianjurkan mengatur ritme ibadah secara seimbang dan konsisten,
tidak memaksakan diri di awal namun menjaga keberlanjutan hingga akhir
Ramadhan. Selain itu, penting juga untuk menjaga pola makan yang sehat serta
mengelola waktu dengan baik.
Perlu diingat bahwa 10 hari kedua
Ramadhan merupakan fase penting untuk memohon ampunan Allah SWT (maghfirah),
sehingga momentum ini seharusnya menjadi penguat semangat bagi setiap muslim
untuk terus meningkatkan kualitas ibadahnya.












