Sudahkah Anda Membaca Al-Qur'an Hari Ini

Mengabdi dengan Hati: Upgrading Guru Hidayatullah Timika Menuju Pendidik Inspiratif dan Ikhlas

TIMIKA – Sekolah Integral Hidayatullah Timika menggelar kegiatan Upgrading Guru dan Karyawan dengan tema besar “Menjadi Guru Inspiratif, Teladan, dan Memiliki Etos Kerja yang Ikhlas”. Acara yang berlangsung khidmat ini diselenggarakan di Aula Iskandar pada Sabtu, 10 Januari 2026.

Menghadirkan pembicara utama Syarief Lacoro, S.Kom, M.Psi., kegiatan ini bertujuan untuk merefresh semangat para pendidik dalam menjalankan amanah sebagai pembentuk peradaban di masa depan.


Guru Sebagai Pelita dan Penuntun

Dalam pemaparannya, Syarief Lacoro menekankan bahwa guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang memiliki peran krusial layaknya cahaya di tengah kegelapan. Ia mengibaratkan guru seperti bulan yang memberikan ketenangan dan penerangan di saat malam tiba.

“Guru adalah kurikulum yang berjalan. Sebelum kita meminta siswa disiplin, jujur, dan santun, nilai-nilai tersebut harus sudah tegak di dalam diri kita terlebih dahulu,” tegas Syarief.

Ia mengingatkan bahwa anak-anak adalah peniru ulung melalui prinsip ‘Caught, Not Taught’. Karakter bukan sekadar diajarkan melalui kata-kata, melainkan ditularkan melalui keteladanan nyata.


Mengajar dengan Otak, Mendidik dengan Jiwa

Lebih lanjut, Syarief menjelaskan perbedaan mendasar antara sekadar mentransfer ilmu dan membentuk jiwa. Menurutnya, mengajar adalah tugas otak untuk mentransfer angka dan data, namun mendidik adalah tugas jiwa untuk memahat karakter.

“Kita bukan sekadar pengajar yang mentransfer angka, kita adalah pemahat karakter. Hari ini kita bicara tentang warisan apa yang kita tinggalkan di hati mereka (siswa),” ujarnya di hadapan puluhan peserta.


Etos Kerja dan Evolusi Pembelajaran

Terkait etos kerja, Syarief menekankan bahwa dedikasi tidak diukur dari lamanya waktu di sekolah, melainkan dari besarnya dampak yang diberikan. Ia juga mendorong para guru untuk terus beradaptasi dengan zaman melalui konsep Long Life Learner.

“Dunia berubah, cara berubah. Guru yang berhenti belajar, harus berhenti mengajar. Mari kita rangkul teknologi tanpa kehilangan sentuhan manusiawi,” tambahnya.


Keikhlasan Sebagai Akar dan Mesin Rahasia

Menutup sesi, Syarief menguraikan filosofi keikhlasan yang diibaratkan sebagai akar pohon. Meski tak terlihat, ia menyokong seluruh kehidupan tumbuhan tersebut.

·        Totalitas: Ikhlas berarti bekerja secara totalitas tanpa pamrih berlebih.

·        Energi Cadangan: Keikhlasan adalah “mesin rahasia” yang memberikan energi ekstra bagi guru untuk tetap tersenyum meskipun lelah fisik melanda.

·        Frekuensi Hati: Ketulusan merupakan frekuensi tercepat untuk sampai ke hati para siswa.

Kegiatan ini diakhiri dengan pesan mendalam bahwa mengajar bukan sekadar menunaikan kewajiban profesi, melainkan menunaikan amanah Allah SWT untuk membentuk peradaban bangsa melalui senjata paling ampuh di dunia, yaitu pendidikan. (sir)