Kategori: Berita Partner Mimika Muslim • Mimika, 17 Oktober 2026
Ketua Komisi Hubungan Umat Beragama Majelis Ulama Indonesia (MUI)
Kabupaten Mimika, Firdaus Amir, S.H., mengajak masyarakat menjaga kerukunan
dengan bijaksana dan tidak menjadikan musibah kebakaran Gereja Katolik Stasi
Santo Fransiskus di Poumako sebagai bahan provokasi. Ajakan tersebut
disampaikan melalui pernyataan bertanggal 17 Oktober 2026.
Menurut keterangan awal kepolisian mengenai kebakaran yang terjadi
pada Rabu, 27 Mei 2026, insiden tersebut diduga dipicu oleh kelalaian yang
tidak disengaja. Firdaus menilai peristiwa itu seharusnya dipandang sebagai
musibah yang memerlukan empati dan kepedulian bersama.
Ia menilai upaya mengarahkan peristiwa tersebut menjadi “uji
eksistensi kerukunan”, atau menyebut slogan toleransi sekadar sebagai jualan,
merupakan kekeliruan logika yang tidak berdasar. Menurutnya, tudingan semacam
itu, apabila diarahkan kepada MUI dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB),
juga dapat dengan mudah dialamatkan secara tidak berdasar kepada organisasi
keagamaan lainnya, seperti Dewan Masjid Indonesia (DMI), Parisada Hindu Dharma
Indonesia (PHDI), dan Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Permabudhi). Narasi
demikian dikhawatirkan justru berpotensi mengadu domba masyarakat.
Firdaus mengingatkan bahwa seusai kebakaran, warga sekitar bergerak
membantu memadamkan api. Berbagai elemen masyarakat lintas agama juga
menunjukkan solidaritas, termasuk Tim Penggerak PKK Mimika, Purna Paskibraka,
organisasi kepemudaan lintas iman, dan pihak-pihak lain yang terlibat.
Ia turut menyoroti respons Pemerintah Kabupaten Mimika, khususnya
kunjungan Bupati Mimika untuk mendengar langsung kebutuhan jemaat. Berbagai
langkah tersebut, menurut Firdaus, mencerminkan kepedulian, semangat kerukunan,
solidaritas sosial, dan harmoni yang hidup di tengah masyarakat.
Karena itu, Firdaus memandang bahwa menyoroti MUI, FKUB, maupun
organisasi keagamaan lain secara tendensius ketika membahas musibah yang telah
berlalu justru dapat mencederai semangat empati kemanusiaan. Ia mengingatkan
agar masyarakat tidak terpengaruh oleh narasi provokatif yang berpotensi
merusak hubungan baik antarumat beragama.
Melalui komisi yang dipimpinnya, Firdaus menyatakan MUI Kabupaten
Mimika terus berupaya membangun dialog, kolaborasi, kerja sama, dan solidaritas
sosial lintas iman guna mengokohkan persaudaraan serta ukhuwah insaniyyah di
tengah keberagaman masyarakat.
Mengenai peran FKUB Kabupaten Mimika, Firdaus menilai forum tersebut
telah menjadi salah satu pelopor penguatan harmoni. Ia mencontohkan upaya
membuka ruang dialog dan perjumpaan lintas iman serta menjalankan program
Safari Harmoni dari satu rumah ibadah ke rumah ibadah lainnya.
Dalam berbagai kegiatan, MUI juga dilibatkan, antara lain doa lintas
iman, relawan hari besar keagamaan, dialog dan Ngopi Kerukunan, pengobatan
gratis di SP6, hingga mini soccer kerukunan. Firdaus memandang rangkaian
kegiatan itu sebagai kontribusi nyata untuk menjaga citra Mimika sebagai daerah
yang harmonis, bersama dukungan masyarakat dan pemerintah daerah dari waktu ke
waktu.
Kendati demikian, ia menyadari bahwa perjalanan merawat kerukunan
masih panjang. Jumlah penduduk yang terus berkembang, keberagaman suku, budaya,
dan agama, luasnya wilayah Mimika, serta berbagai keterbatasan menjadi
tantangan yang perlu dihadapi bersama.
Baginya, kerja-kerja kerukunan tidak berhenti pada slogan maupun
angka, melainkan harus tercermin dalam kondisi kehidupan masyarakat. Kebakaran
gereja di Poumako merupakan musibah yang tidak diharapkan. Oleh sebab itu,
masyarakat patut menunjukkan rasa duka, kepedulian, dan solidaritas nyata dalam
beragam bentuk.
Jalan Tengah
(Wasathiyah) dan Pendekatan Harmoni
Di tengah duka yang dialami warga Poumako, Firdaus mengajak semua
pihak menempuh jalan kebijaksanaan melalui beberapa pendekatan berikut:
• Memisahkan musibah dari isu
SARA. Mendorong semua pihak membedakan peristiwa
kebencanaan atau musibah dari isu konflik antaragama, serta tidak menarik
kesimpulan yang dapat memperkeruh keadaan.
• Menjaga kesejukan literasi.
Media massa dan pegiat media sosial diharapkan
menyajikan informasi yang menyejukkan, solutif, serta membangun solidaritas,
bukan judul sensasional yang memicu prasangka.
• Mengutamakan empati lintas
agama. Belasungkawa, dukungan moral, dan bantuan
kemanusiaan spontan dari berbagai elemen lintas agama merupakan wujud toleransi
yang nyata, tanpa perlu dijadikan konten demonstratif untuk pencitraan atau
sekadar mencari validasi.
Dorong Edukasi
Keselamatan Rumah Ibadah
Sebagai solusi ke depan, Firdaus berharap pemerintah dapat
mengembangkan program edukasi keselamatan rumah ibadah. Program tersebut dapat
berupa gerakan edukasi bersama mengenai mitigasi kebakaran, keamanan instalasi
listrik, serta pengelolaan sumber api di gedung-gedung ibadah seluruh umat
beragama, agar kejadian serupa tidak terulang.
MUI, tegasnya, akan terus berkomitmen merawat dan memelihara
toleransi di Tanah Amungsa, Bumi Kamoro. Baginya, toleransi bukan sekadar
slogan, melainkan komitmen hidup yang dipelihara dengan saling menghargai dan
ketulusan hati tanpa memandang perbedaan.
Naskah: Pernyataan Firdaus Amir, S.H. (17 Oktober 2026), disunting
redaksi Mimika Muslim.
Rujukan
pendukung kronologi kebakaran: salampapua.com (28 Mei 2026); sumber tersebut
tidak digunakan sebagai sumber pernyataan narasumber.











