Sabtu, 17 Oktober 2026 / 6 Jumadilawal 1448 ||
Sudahkah Anda Membaca Al-Qur'an Hari Ini

Imsak Subuh Syuruq Duha Zuhur Ashar Magrib Isya
04:06 04:16 05:28 05:56 11:41 14:50 17:47 18:57
Imsak 04:06
Subuh 04:16
Syuruq 05:28
Duha 05:56
Zuhur 11:41
Ashar 14:50
Magrib 17:47
Isya 18:57
Sumber Jadwal : BHR Kabupaten Mimika

Firdaus Amir Ajak Masyarakat Jaga Kerukunan, Musibah Kebakaran Poumako Tak Boleh Dijadikan Bahan Provokasi

Kategori: Berita Partner Mimika Muslim    •    Mimika, 17 Oktober 2026

Ketua Komisi Hubungan Umat Beragama Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Mimika, Firdaus Amir, S.H., mengajak masyarakat menjaga kerukunan dengan bijaksana dan tidak menjadikan musibah kebakaran Gereja Katolik Stasi Santo Fransiskus di Poumako sebagai bahan provokasi. Ajakan tersebut disampaikan melalui pernyataan bertanggal 17 Oktober 2026.

Menurut keterangan awal kepolisian mengenai kebakaran yang terjadi pada Rabu, 27 Mei 2026, insiden tersebut diduga dipicu oleh kelalaian yang tidak disengaja. Firdaus menilai peristiwa itu seharusnya dipandang sebagai musibah yang memerlukan empati dan kepedulian bersama.

Ia menilai upaya mengarahkan peristiwa tersebut menjadi “uji eksistensi kerukunan”, atau menyebut slogan toleransi sekadar sebagai jualan, merupakan kekeliruan logika yang tidak berdasar. Menurutnya, tudingan semacam itu, apabila diarahkan kepada MUI dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), juga dapat dengan mudah dialamatkan secara tidak berdasar kepada organisasi keagamaan lainnya, seperti Dewan Masjid Indonesia (DMI), Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), dan Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Permabudhi). Narasi demikian dikhawatirkan justru berpotensi mengadu domba masyarakat.

Firdaus mengingatkan bahwa seusai kebakaran, warga sekitar bergerak membantu memadamkan api. Berbagai elemen masyarakat lintas agama juga menunjukkan solidaritas, termasuk Tim Penggerak PKK Mimika, Purna Paskibraka, organisasi kepemudaan lintas iman, dan pihak-pihak lain yang terlibat.

Ia turut menyoroti respons Pemerintah Kabupaten Mimika, khususnya kunjungan Bupati Mimika untuk mendengar langsung kebutuhan jemaat. Berbagai langkah tersebut, menurut Firdaus, mencerminkan kepedulian, semangat kerukunan, solidaritas sosial, dan harmoni yang hidup di tengah masyarakat.

Karena itu, Firdaus memandang bahwa menyoroti MUI, FKUB, maupun organisasi keagamaan lain secara tendensius ketika membahas musibah yang telah berlalu justru dapat mencederai semangat empati kemanusiaan. Ia mengingatkan agar masyarakat tidak terpengaruh oleh narasi provokatif yang berpotensi merusak hubungan baik antarumat beragama.

Melalui komisi yang dipimpinnya, Firdaus menyatakan MUI Kabupaten Mimika terus berupaya membangun dialog, kolaborasi, kerja sama, dan solidaritas sosial lintas iman guna mengokohkan persaudaraan serta ukhuwah insaniyyah di tengah keberagaman masyarakat.

Mengenai peran FKUB Kabupaten Mimika, Firdaus menilai forum tersebut telah menjadi salah satu pelopor penguatan harmoni. Ia mencontohkan upaya membuka ruang dialog dan perjumpaan lintas iman serta menjalankan program Safari Harmoni dari satu rumah ibadah ke rumah ibadah lainnya.

Dalam berbagai kegiatan, MUI juga dilibatkan, antara lain doa lintas iman, relawan hari besar keagamaan, dialog dan Ngopi Kerukunan, pengobatan gratis di SP6, hingga mini soccer kerukunan. Firdaus memandang rangkaian kegiatan itu sebagai kontribusi nyata untuk menjaga citra Mimika sebagai daerah yang harmonis, bersama dukungan masyarakat dan pemerintah daerah dari waktu ke waktu.

Kendati demikian, ia menyadari bahwa perjalanan merawat kerukunan masih panjang. Jumlah penduduk yang terus berkembang, keberagaman suku, budaya, dan agama, luasnya wilayah Mimika, serta berbagai keterbatasan menjadi tantangan yang perlu dihadapi bersama.

Baginya, kerja-kerja kerukunan tidak berhenti pada slogan maupun angka, melainkan harus tercermin dalam kondisi kehidupan masyarakat. Kebakaran gereja di Poumako merupakan musibah yang tidak diharapkan. Oleh sebab itu, masyarakat patut menunjukkan rasa duka, kepedulian, dan solidaritas nyata dalam beragam bentuk.

Jalan Tengah (Wasathiyah) dan Pendekatan Harmoni

Di tengah duka yang dialami warga Poumako, Firdaus mengajak semua pihak menempuh jalan kebijaksanaan melalui beberapa pendekatan berikut:

•  Memisahkan musibah dari isu SARA. Mendorong semua pihak membedakan peristiwa kebencanaan atau musibah dari isu konflik antaragama, serta tidak menarik kesimpulan yang dapat memperkeruh keadaan.

•  Menjaga kesejukan literasi. Media massa dan pegiat media sosial diharapkan menyajikan informasi yang menyejukkan, solutif, serta membangun solidaritas, bukan judul sensasional yang memicu prasangka.

•  Mengutamakan empati lintas agama. Belasungkawa, dukungan moral, dan bantuan kemanusiaan spontan dari berbagai elemen lintas agama merupakan wujud toleransi yang nyata, tanpa perlu dijadikan konten demonstratif untuk pencitraan atau sekadar mencari validasi.

Dorong Edukasi Keselamatan Rumah Ibadah

Sebagai solusi ke depan, Firdaus berharap pemerintah dapat mengembangkan program edukasi keselamatan rumah ibadah. Program tersebut dapat berupa gerakan edukasi bersama mengenai mitigasi kebakaran, keamanan instalasi listrik, serta pengelolaan sumber api di gedung-gedung ibadah seluruh umat beragama, agar kejadian serupa tidak terulang.

MUI, tegasnya, akan terus berkomitmen merawat dan memelihara toleransi di Tanah Amungsa, Bumi Kamoro. Baginya, toleransi bukan sekadar slogan, melainkan komitmen hidup yang dipelihara dengan saling menghargai dan ketulusan hati tanpa memandang perbedaan.

Naskah: Pernyataan Firdaus Amir, S.H. (17 Oktober 2026), disunting redaksi Mimika Muslim.

Rujukan pendukung kronologi kebakaran: salampapua.com (28 Mei 2026); sumber tersebut tidak digunakan sebagai sumber pernyataan narasumber.